ku buka dan ku baca, eh cukup menarik juga isinya, itu menurut pendapat pribadiku aja lo ya?
jadi ya ku posting aja deh di blog koe ini...ehm..ehm.....tp setelah di edit ya, mudah-mudahan bisa berkenan buat yang baca semua.
Awal mula perkenalan, aku berkirim surat padanya. Aku butuh informasi mengenai kelas tulis menulisnya. Bara membalas suratku dengan ramah, ia berikan informasi yang aku butuhkan.
Setelahnya surat-surat kami masih terus berlanjut, tak putus walau agak berjarak.
Masih tetap sama isi surat-surat kami hanya seputar dunia tulis menulis. Aku memang senang menulis.
dia, seorang yang baik. Ia tak sungkan membagi ilmunya, mengajari sambil berbagi pengetahuan. Lama-lama aku tak lagi menganggapnya sebagai kenalan baru, bukan juga sebagai teman tapi sebagai guru menulisku, di e-mail.
Selama kami berkorespondensi, aku tak banyak bertanya tentang kehidupan pribadinya. Yang aku tahu, dia adalah seorang jurnalis, satu tahun lebih tua dariku, ber-zodiak pisces, penyuka tanaman, senang film dan musik.
Selama itu, kami tak pernah bertemu, komunikasi kami hanya melalui e-mail, chating dan sesekali berkirim SMS. Mendengarkan suaranya pun tidak pernah. Benar-benar hubungan yang aneh, absurd ya? tapi aku menikmatinya dengan santai. Bila sedang sibuk, kami pun tak saling berkomunikasi, tenggelam dalam rutinitas masing-masing.
Suatu ketika, dia menemukan puisi-puisiku di sebuah media online. Dia mengirimiku sebuah pesan pendek. “Aku menemukan puisimu,” katanya. Aku kaget ketika membaca pesannya itu. Selama ini aku memang sengaja tak memberi tahu padanya, pada siapa pun juga, kalau aku senang menulis puisi. Eh ketahuan, yah aku tertawa saja.
Aku merasa dia berubah. Ini di luar dugaan, tak lagi sekedar ramah bersahabat, ia mendadak hangat. Entah ia menyukai puisiku atau ia rindu pada puisi-puisi, entahlah, aku tak tahu. Guru menulisku berubah romantis.
Kutemukan jejakku yang terbang bersama kupukupu. Kamu masih merajuk. Padahal aku tak benar-benar pergi, menunggumu ajak aku genapi janjiku : mengajarimu mengeja. Pulanglah. Aku menunggumu.
Aku tergelitik. Orang mana yang tak senang menerima puisi? Dan sialnya aku seseorang rapuh yang mudah tergoda. Maka, puisi kubalas dengan puisi. Kubiarkan diri ini hanyut dalam untaiannya.
Ajari aku mengeja. Dan biarkan aku terlena dalam pena. Aku butuh cakar kuatmu. Ah, Kau sungguh mempesona.
Dia menjadi rajin mengirimiku puisi. Kami bersiram-siraman puisi. Berdua, mengalir begitu saja, hingga mabuk sekali rasanya. Betapa terpikatnya aku pada kata-katanya yang kuat. Tergapah-gopoh aku mengejanya, berusaha mengejarnya sampai tercekat.
Hingga suatu kali aku tergagap, puisinya berubah liar dan sensual. Jantungku berdenyut kencang membacanya. Puisinya begitu haram dan menenggelamkan. Ia mencumbuku, meraja di atas tubuhku, melalui puisi-puisinya yang membiru.
Ular derik bersembunyi di balik batu. Tanpa melilit aku sudah gelisah. Geli. Resah. Oleh desisnya, berharap lilitannya. Apakah ciumanku bisa meredam sengatannya?
Ah,
Aku hanya bisa terbelalak dan berdecak. Aku terjebak dalam permainan kata-katanya yang memikat. Atau mungkin aku pun telah tersesat, pada kalimat-kalimat rahasia yang mengandung berahi, karena nafsu tak pernah mati.
Desis ular menjalar dari rerimbunan belukar. Kalau bukan suara tuannya yang gusar, ia tak akan keluar. Kenapa segusar itu, ? Tawarkan saja bisaku dengan bibirmu yang selembut beledu itu. Maka ia akan terlilit rindu dalam pelukan kuasamu.
Hingga aku menulis cerita ini, aku belum juga bertemu muka dengannya. Mendengarkan suaranya pun tak pernah. Hubungan yang absurd dan entah sampai kapan. Terkadang aku berpikir ingin menghentikannya, karena aku tak mau tercabik-cabik oleh keliaran otakku sendiri, di saat ia berhasil menelanjangiku dengan puisinya.
Sewaktu ketika aku menjelma menjadi puisi, samar-samar aku melihat pahatan yang menggunakan bahasa hati dan jiwa.
Kamu tak pernah sendiri. Aku selalu membaca jejakmu, berharap tulisanmu. Aku menanti kau tepati janji : menjadi penulis yang baik. Dan aku ada di sisimu.
Aku tak pernah dapat menyentuh lengannya, ketika ia sedang berlari dengan kata-katanya. Meski aku pun ikut berlari, berlari dan terus berlari. Kini kubaru mengerti bahwa hidup tak tercela belum tentu suci.
Dan, aku sekarat! ups!!! tumbang deh.
hayo, hayo..let's do your work, man!!!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar